Libur dari Keramaian
(Markus 1 : 21-35)
Selama Yesus menggenapi karya penyelamatannya di bumi, hidupnya dipenuhi kegiatan-kegiatan pelayanan dari satu tempat ke tempat lain, dari satu kegiatan ke kegiatan lain. Rasul Paulus dalam kitab Markus banyak bercerita mengenai kegiatan Yesus yang super padat, mulai dari mengajar, melakukan mujizat, mengusir roh jahat, dan bayak lagi. Yesus melakukan begitu banyak kegiatan, layaknya manusia-manusia lain di masa sekarang.
Dalam melaksanakan penggilanNya sebagai juruslamat, Yesus yang adalah Tuhan itu sendiri, turun sebagai manusia. Dari sekian banyak kegiatan Yesus, ternyata Ia juga butuh istirahat, Ia butuh waktu untuk berhenti dari kegiatanNya. Dalam Markus 1:35 (BIS) tertulis “Keesokan harinya, waktu masih subuh, Yesus bangun lalu meninggalkan rumah. Ia pergi ke tempat yang sunyi di luar kota, dan berdoa di sana”. Kita coba analisis kata-kata dalam ayat ini:
Yesus bangun menandakan bahwa Yesus juga tidur.
Tempat yang sunyi di luar kota dapat kita artikan bahwa Yesus juga melakukan Retreat, menarik diri dari komunitasnya dan keramaian kota.
Berdoa menandakan bahwa Yesus berserah kepada Allah atas dan untuk seluruh kegiatan yang sudah dan akan dilakukan. Yesus bergantung pada BapaNya.
Kata Retreat tentu tak asing lagi di telinga kita. “Retreat” adalah suatu kegiatan di mana kita menarik diri dari kegiatan/aktivitas sehari-hari dan menggunakan waktu khusus untuk bersekutu dengan Tuhan. Retreat dapat dilakukan secara berkelompok, tetapi juga perorangan yaitu ketika kita menyendiri, memisahkan diri dari semua kesibukan kita dan mengkhususkan waktu itu hanya untuk bersekutu hanya dengan Tuhan. Dan biasanya, selesai retreat kita merasakan kesegaran baru bagi roh kita. (1)
Sebagai mahasiswa, Retreat sering kita nikamti dalam masa libur. Masa libur adalah waktu yang paling ditunggu-ditunggu untuk melepas diri dari semua kegiatan/kesibukan yang mengikat selama masa perkuliahan. Masalahnya, seringkali kita menganggap masa libur adalah waktu yang tersedia untuk bermalas-malasan, melupakan banyak hal berkaitan perkuliahan, dan komitmen di kepengurusan dan kegiatan organisasi yang kita ikuti, bahkan tak jarang masa liburan dikambing hitamkan sebagai waktu untuk meregangkan “Hubungan Intim” dengan Allah melalui disiplin berdoa, bersaat teduh dan kegiatan rohani lainnya. Tanpa kita sadari masa libur sering menjebak kita untuk libur juga menghadap Allah yang menganugerahkan waktu rehat bagi kita.
Yesus yang adalah guru kita, memberi teladan nyata lewat kehidupanNya, saat Ia menarik diri dari segala kegiatan yang sudah dan yang akan dilakukanNya dan mengahadap Allah untuk mendengar suara bapaNya. Seperti apa pola liburanmu selama ini ? Coba telisik lagi apakah liburan yang kita nikmati adalah liburan yang berkenan di hati Allah ?
Kala liburanmu mulai membosankan, mari coba belajar dari Yesus, yang menikmati masa rehatnya untuk Retreat. Berkontemplasi, menikmati hadirat Tuhan dalam persekutuan pribadi maupun kelompok. Meliburkan diri dari keramaian masuk dalam ketenanganNya dan mulailah mengisi bahan bakar semangat dengan membagun relasi yang intim denganNya. Berserah untuk masa kerja yang akan datang.
Tulisan ini dimuat dalam Buletin Bulanan PERMATA JATINANGOR “MECIHO edisi Liburan”
~Nainggolan~
Bahagia itu rasa,dirasakan, jangan dipikirkan ! :)
—ASN







